yoKeepo: Media alternatif untuk yg muda dan kepoyoKeepo



Home / Kini / Peduli / Kekerasan psikologis terhadap anak termasuk KDRT lho!

Kekerasan psikologis terhadap anak termasuk KDRT lho!

±Selasa, 09 September 2014
Kekerasan psikologis terhadap anak termasuk KDRT lho! - Berteriak, membentak, melotot, menghakimi, cerewet yang berlebihan pada anak bisa dikategorikan kekerasan terhadap anak.

Berteriak, membentak, melotot, menghakimi, cerewet yang berlebihan pada anak bisa dikategorikan kekerasan terhadap anak. (Foto: bipolarcenterindonesia)

Anak terkecil saya berusia 2 tahun, masih lucu dan cadel. Dalam tindakan sehari-hari, tanpa disadari, saya melakukan kekerasan rumah tangga.Kekerasan terhadap anak bisa dalam bentuk kekerasan psikologis, contohnya memarahi secara lebay dan tidak proporsional. Begini ceritanya…

Sering saya tidak fokus, tidak menyadari esensi kata-kata anak. Efeknya, kekerasan psikologis, kekerasan terhadap anak mudah terjadi. Saat melihat genangan air, kata-kata favorit dia: “becek-becek, dimarahi ibu”. Apa latar belakang anak ngomong begitu?

Bermula saat dia sudah rapi sehabis mandi sore ternyata bermain-main di genangan air bekas hujan di halaman.  Spontan, saya berteriak, melotot seraya mengangkat tubuhnya keluar dari genangan. Sejak itu terpatri di benaknya:  bermain becek, pasti dimarah ibu. Orang tua pelaku kekerasan rumah tangga jarang menyadari ini.

Belakangan saya merenung, seringkali tidak proporsional menempatkan kesalahan anak saya. Bukankah saya sendiri mengatakan, boleh bermain hujan asalkan di sekitar rumah. Bukankah anak usia 2 tahun belum bisa memahami perintah secara jelas dan lengkap. Ini sudah masuk kategori kekerasan psikologis anak.

Bisa jadi pesan yang dia tangkap hanya kalimat “boleh main hujan…” dan bukankah bukan pekerjaan berat kalau kita menyuruh dia keluar dari genangan air kemudian memandikannya kembali? Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT pada anak-anak) dalam bentuk verbal sangat mungkin dan sering terjadi.

Contoh kekerasan rumah tangga pada anak, yang lain: saat anak bangun tidur pasti dia bad mood. Paling hanya pelukan dan kecupan yang dia pengin. Karena deadline pekerjaan kantor, saya sibuk prepare, malah saya menghakimi, mengatakan dia pemalas dan tidak mandiri. Pengin tampak ideal bagi bos tapi tidak bagi buah hati sendiri.

Kejadian lainnya, saya salah menerjemahkan rasa sayang dengan bahasa mirip amarah. Saat dia memecahkan gelas, saya membentaknya, mengatakan kurang hati-hati. Padahal maksud saya supaya pecahan kaca tidak melukainya. Sebenarnya kan bisa dijelaskan kecerobohan bisa membahayakan. Dia akan merasa lebih aman, nyaman karena yakin dia dicintai.

Semua orang tua pengin jadi ideal. Seandainya anak punya kesempatan memilih orang tua ideal, bisa-bisa saya tidak akan terpilih olehnya. Dia akan pilih orang tua tidak cerewet, sabar, baik lagi kaya. Dan seumur hidup saya tidak akan punya kesempatan untuk memiliki dia. Justru orang dewasalah punya pilihan, apakah kita mau punya anak atau tidak.

Editor: Pracoyo
[ Via: wikipedia ]


Keepo collections:
Peduli