yoKeepo: Media alternatif untuk yg muda dan kepoyoKeepo



Home / Lagak / Gaul / Dari anak gaul jadi penulis muda, siapa takut?

Dari anak gaul jadi penulis muda, siapa takut?

±Selasa, 15 April 2014
Dari anak gaul jadi penulis muda, siapa takut? - Jangan takut menulis. Banyaklah membaca dan mendengar, kemudian mulailah dengan menulis di blog senyaman mungkin.

Jangan takut menulis. Banyaklah membaca dan mendengar, kemudian mulailah dengan menulis di blog senyaman mungkin. (Foto: sesawi.net)

Menulis itu asyik. Jadilah penulis muda gaul. Wawasan anak muda kayak kamu, bisa terus bertambah jadi tak terbendung. Saat itulah waktu tepat belajar menulis. Puisi, cerpen, otobiografi atau apapun. Anak gaul jangan takut menulis!  Anak kecil saja sudah pandai menulis – dengan cara mereka sendiri tentunya. Here’s how!

Penulis muda, banyaklah membaca.  Mulailah membaca satu paragraf, temukan plotnya. Tulislah ulasan singkat seolah kamu berbicara dengan teman-temanmu. Tulislah semenarik mungkin, ditambah deskripsi jelas dan hindari jargon membingungkan. Buatlah blog pribadi supaya menulis lebih nyaman. Sekarang cobalah menulis beberapa paragraf.

Mungkin saja ada komen pada artikel kamu. Bisa komen baik, bisa menjengkelkan. Cobalah pahami itu sebagai bentuk perhatian. Komen lahir sebagai respon tulisan kamu udah dibaca! Percaya diri aja lagee…  Ungkapkan pemikiranmu, kekuatiranmu atas suatu hal. Misalnya, bagaimana perasaan kamu menghadapi UNAS, terus gimana caramu menghadapinya. Lambat laun kamu tersadarkan, ternyata kamu mampu melihat dunia dengan sudut pandang berbeda dari orang lain. Iya..sudut pandang kamu sendiri, penulis muda baru.

Untuk eksplorasi level selanjutnya, cobalah membuat cerita berantai. Apa maksudnya? Belajar menulis satu paragraf di awal cerita. Beri kesempatan temanmu melanjutkan cerita kamu di paragraf kedua atau sampai paragraf ketiga. Akhiri ceritanya dari sisi kamu. Walau di pararaf kedua atau ketiga tidak sesuai dengan rancanganmu, pada akhir paragraf, kamu bisa mengakhirinya dengan baik. Ini melatih kamu memahami sudut pandang teman.

Terus saja menulis seperti jurnal, rutin.  Pengalaman travelling bersama geng kamu misalnya. Ini akan mengasah naluri mengamati lingkungan fisik dan sosial di sekitar kamu sehari-hari. Buah dari naluri mengamati tadi adalah kamu terbiasa menulis tentang bagaimana cara mengatasi ini atau itu secara alamiah.

Yang terakhir, bersikap positif. Termasuk pada ‘penolakan’ terhadap artikel kamu. Belajarlah memberi inspirasi kepada teman lain (terutama kepada yang lebih muda)  agar juga berani menulis. Karena apa yang anak cucu kita baca, bisa jadi salah satunya adalah tulisan kita atau teman yang dapat inspirasi menulis karena kita.
[ Via: ezinearticles, yokeepo ]


Keepo collections:
Gaul